Logo
Home | About Us | News | Our Solution | Contact
Menu
  • Home
  • About Us
  • News
  • Our Solution
  • Contact
Thumbnail Berita
Framework Global Sustainability

Mengurai Jaring-Jaring Global: Standar Pelaporan Penentu Masa Depan Bumi

Di era krisis iklim dan tantangan sosial yang mendesak, konsep keberlanjutan telah bertransformasi dari sekadar tren menjadi sebuah imperatif bisnis global. Namun, bagaimana kita mengukur "keberlanjutan"? Bagaimana investor dan masyarakat tahu bahwa sebuah perusahaan benar-benar ramah lingkungan, bukan sekadar greenwashing?

Jawabannya terletak pada Kerangka Kerja Global untuk Keberlanjutan (Global Sustainable Framework). Kerangka-kerangka ini berfungsi sebagai kompas dan alat ukur yang memastikan perusahaan melaporkan dampak Lingkungan (E), Sosial (S), dan Tata Kelola (G) mereka dengan cara yang konsisten, transparan, dan terukur.

Pilar-Pilar Standar Global

Untuk menciptakan bahasa bersama dalam pelaporan ESG, beberapa badan internasional telah mengembangkan standar yang diakui luas. Tiga pilar utama dalam ekosistem ini adalah:

1. Global Reporting Initiative (GRI): Fokus pada Akuntabilitas Dampak

GRI adalah standar pelaporan keberlanjutan yang paling umum digunakan untuk akuntabilitas publik. Filosofi utamanya adalah materialitas dampak: perusahaan harus melaporkan isu-isu di mana aktivitas mereka memberikan dampak terbesar—baik positif maupun negatif—terhadap masyarakat dan lingkungan.

  • Inti: Menjawab kebutuhan berbagai pihak (karyawan, komunitas, pemerintah, dll.) tentang bagaimana perusahaan memengaruhi dunia.

2. Sustainability Accounting Standards Board (SASB): Fokus pada Nilai Finansial

Standar SASB, kini di bawah International Sustainability Standards Board (ISSB), memiliki sudut pandang yang berbeda: materialitas finansial. Standar ini mengidentifikasi faktor-faktor ESG spesifik industri yang dapat memengaruhi penciptaan nilai jangka panjang suatu perusahaan.

  • Inti: Menyediakan data yang spesifik dan dapat diperbandingkan bagi investor untuk mengukur risiko dan peluang ESG yang memengaruhi kinerja keuangan.

3. Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD): Fokus Khusus Iklim

TCFD menjadi standar emas untuk pengungkapan risiko dan peluang terkait perubahan iklim. Kerangka ini menuntut perusahaan untuk menjelaskan bagaimana mereka mengelola isu iklim dalam empat kategori: Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik/Target.

  • Inti: Memungkinkan investor memahami potensi kerugian finansial yang ditimbulkan oleh perubahan fisik (misalnya, banjir) dan transisi (misalnya, kebijakan karbon) yang terkait dengan iklim.

Konvergensi Menuju Bahasa Tunggal (ISSB)

Perkembangan paling signifikan adalah lahirnya International Sustainability Standards Board (ISSB). Dibentuk oleh IFRS Foundation (lembaga yang juga membuat standar akuntansi keuangan global), ISSB bertujuan untuk menciptakan standar baseline global tunggal untuk pelaporan keberlanjutan yang berfokus pada investor.

ISSB mengambil yang terbaik dari SASB dan TCFD untuk menyusun dua standar utama: IFRS S1 (Persyaratan umum pengungkapan keberlanjutan) dan IFRS S2 (Pengungkapan terkait iklim). Tujuannya adalah menyelaraskan pelaporan ESG dengan pelaporan keuangan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari nilai perusahaan.

SDGs: Peta Jalan, Bukan Sekadar Standar

Selain standar pelaporan, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB berfungsi sebagai peta jalan strategis global. Ke-17 tujuan ini (seperti menghilangkan kemiskinan dan aksi iklim) menjadi panduan bagi perusahaan untuk menyelaraskan strategi bisnis mereka dengan prioritas pembangunan dunia.

Kesimpulan: Keniscayaan Transparansi

Kerangka kerja global ini adalah fondasi yang memastikan data keberlanjutan akurat dan dapat diverifikasi. Mereka mengubah keberlanjutan dari klaim soft menjadi data kuantitatif yang memandu triliunan dolar dalam keputusan investasi.

Pada akhirnya, kerangka kerja ini bukan hanya tentang kepatuhan, melainkan tentang transparansi radikal yang diperlukan untuk mengalihkan modal global menuju solusi yang benar-benar berkelanjutan bagi Bumi dan generasi mendatang.

20 Oktober 2025 Lihat Detail
Thumbnail Berita
Lingkungan

Pahlawan Keberlanjutan Lokal: Mama-Mama Enggras dan "Hutan Perempuan", Jantung Ekosistem Mangrove Papua

Di balik lanskap Teluk Youtefa, Jayapura, yang memesona, di antara rimbunnya hutan bakau (mangrove) yang menjadi benteng alami pesisir, hiduplah sebuah komunitas penjaga ekologi yang tak kenal lelah: Mama-Mama dari Suku Enggros. Mereka bukanlah ilmuwan bergelar yang bekerja di laboratorium canggih. Mereka adalah pahlawan keberlanjutan yang sesungguhnya, yang memelihara kehidupan dengan sebuah sistem kearifan lokal yang telah teruji ratusan tahun, yang berpusat pada sebuah tempat sakral: "Hutan Perempuan".

Kisah mereka adalah cerminan nyata bahwa konservasi paling efektif seringkali bukanlah program yang dirancang dari atas, melainkan tradisi yang hidup dan diwariskan dari hati.

🌳 Mangrove: Supermarket Sekaligus Perisai Kehidupan

Sebelum menyelami kearifan lokal mereka, penting untuk memahami panggung tempat mereka beraksi. Ekosistem mangrove, bagi Suku Enggros yang mendiami rumah-rumah panggung di atas air (Kampung Enggros), adalah segalanya.

Secara ilmiah, mangrove adalah ekosistem vital dengan fungsi ganda:

  1. Benteng Pesisir: Akar-akar mangrove yang kokoh dan kompleks meredam energi gelombang, melindungi daratan dari abrasi, badai, dan bahkan tsunami.
  2. Penyerap Karbon (Carbon Sink): Hutan mangrove adalah salah satu penyerap karbon biru (blue carbon) paling efisien di planet ini. Kemampuannya menyimpan karbon per hektar jauh melampaui hutan hujan tropis, menjadikannya kunci dalam mitigasi perubahan iklim.
  3. Habitat Biologis (Biodiversity Hotspot): Mangrove adalah "rumah susun" bagi keanekaragaman hayati. Ia menjadi tempat pembibitan (nursery ground) bagi ikan, kepiting, udang, dan berbagai moluska.

Bagi Mama-Mama Enggras, hutan ini adalah "supermarket" mereka. Dari sinilah mereka mencari bia (kerang), kepiting, dan ikan untuk menghidupi keluarga. Hutan ini adalah jaminan ketahanan pangan mereka.

👩‍👩‍👧‍👧 "Hutan Perempuan": Konservasi Berbasis Gender yang Sakral

Inilah inti dari kearifan lokal Suku Enggros. Di dalam hamparan mangrove yang luas, terdapat sebuah area spesifik yang ditandai dan disakralkan, dikenal sebagai "Hutan Perempuan" (dalam bahasa lokal disebut Uway Parea atau Ewe Parea).

Apa yang membuatnya istimewa? Aturannya sederhana namun mengikat:

Laki-laki dewasa dilarang keras memasuki area ini.

Aturan ini bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan sebuah strategi konservasi yang brilian dan berakar dalam. Secara tradisional, laki-laki di Suku Enggros bertugas mencari ikan di laut lepas atau menebang pohon untuk bahan bangunan (kayu bakau berukuran besar). Jika laki-laki diizinkan masuk ke "Hutan Perempuan", ada risiko eksploitasi berlebih, terutama penebangan pohon untuk bahan baku atau komersialisasi.

Hutan ini adalah domain eksklusif para perempuan. Di sinilah Mama-Mama dan anak-anak perempuan mereka:

  • Mencari nafkah: Mereka berjalan di lumpur saat air surut, mencari kerang dan kepiting dengan tangan atau alat sederhana.
  • Belajar: Ini adalah ruang kelas alami. Seorang ibu akan mengajari putrinya cara membedakan kerang yang siap panen dan yang masih kecil, cara berjalan di lumpur tanpa merusak akar napas mangrove, dan kapan waktu terbaik untuk mencari hasil.
  • Berbagi: Ini juga menjadi ruang sosial yang aman bagi perempuan untuk bercerita dan memperkuat ikatan komunal.

🌱 Wujud Nyata Sustainability dalam Kearifan Lokal

Tindakan Mama-Mama Enggras di Hutan Perempuan adalah praktik keberlanjutan (sustainability) yang sempurna, jauh sebelum istilah itu populer secara global.

1. Manajemen Sumber Daya Berbasis Kebutuhan (Sustainable Yield) Mama-Mama hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk makan dan dijual secukupnya di pasar lokal. Mereka tidak serakah. Ada etika tak tertulis: jika mereka menemukan kerang atau kepiting yang masih kecil, mereka akan melepaskannya kembali agar bisa tumbuh besar dan berkembang biak. Ini adalah prinsip dasar "hasil lestari" (sustainable yield) dalam ilmu perikanan.

2. Perlindungan Habitat Dengan melarang eksploitasi skala besar (penebangan oleh laki-laki), mereka secara efektif melindungi struktur fisik hutan. Akar-akar mangrove tetap utuh, lumpur tetap stabil, dan siklus regenerasi pohon bakau terus berjalan. Mereka tidak hanya memanen hasil, mereka menjaga pabriknya.

3. Transfer Pengetahuan Lintas Generasi (Trans-generational Knowledge) Keberlanjutan sejati membutuhkan kesinambungan. Di Hutan Perempuan, pengetahuan ekologi ini tidak ditulis dalam buku teks, tetapi diwariskan secara lisan dan praktik (learning by doing) dari ibu ke anak. Generasi muda belajar menghormati alam karena mereka melihat langsung ketergantungan hidup mereka padanya.

4. Pemberdayaan Ekonomi dan Kesetaraan (SDG 5 & SDG 1) Hutan ini memberikan perempuan Suku Enggros otonomi ekonomi. Mereka memiliki kontrol langsung atas sumber daya yang menopang keluarga mereka. Ini adalah cerminan langsung dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 5 (Kesetaraan Gender) dan nomor 1 (Tanpa Kemiskinan).

🚨 Tantangan di Era Modern: Perjuangan Melawan Sampah

Kearifan lokal yang telah menjaga Teluk Youtefa selama berabad-abad ini kini menghadapi ancaman baru yang tidak berasal dari dalam komunitas: ancaman modernitas.

Ekspansi kota Jayapura membawa serta polusi. Sampah plastik dan limbah domestik kini menjadi pemandangan menyedihkan yang tersangkut di akar-akar bakau. Mama-Mama Enggras melaporkan bahwa hasil tangkapan mereka menurun, dan kerang-kerang terkadang mati karena tercemar.

Perjuangan mereka kini berevolusi. Dari yang semula hanya penjaga tradisi, mereka kini harus menjadi pejuang lingkungan yang vokal, berhadapan dengan masalah sampah kiriman yang mengancam "supermarket" dan rumah mereka.

Kesimpulan: Belajar dari Mama Enggras

Kisah Mama-Mama Enggras dan Hutan Perempuan adalah pengingat kuat bahwa kearifan lokal bukanlah peninggalan masa lalu yang primitif. Ia adalah sebuah sistem ilmu pengetahuan ekologi yang kompleks, teruji, dan sangat relevan.

Mereka adalah para "Ilmuwan Jalanan" yang mempraktikkan konservasi tingkat tinggi setiap hari. Di saat dunia sibuk mencari solusi teknologi canggih untuk krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, Mama-Mama Enggras menunjukkan bahwa salah satu solusi terkuat mungkin sudah ada: memberikan kembali hak pengelolaan kepada komunitas lokal, menghormati tradisi, dan mengakui peran sentral perempuan sebagai penjaga bumi.

Mereka bukan hanya pahlawan bagi Suku Enggros; mereka adalah pahlawan keberlanjutan bagi kita semua.

4 November 2025 Lihat Detail
Thumbnail Berita
Sedekah Oksigen, Penanaman Pohon, 1000 Pohon, Sustainarra, BPDLH

“Sedekah Oksigen: Penanaman 1000 Pohon”

Kegiatan Sedekah Oksigen: Penanaman 1000 Pohon merupakan komitmen nyata dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kualitas udara bagi masyarakat. Melalui penanaman pohon sengon (400 bibit), alpukat (100 bibit), dan kayu putih (500 bibit), program ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis jangka panjang, mulai dari peningkatan ketersediaan oksigen, perbaikan kesuburan tanah, hingga penguatan tutupan vegetasi di kawasan yang membutuhkan rehabilitasi.

Pelaksanaan kegiatan di desa teruwai, kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Teduhi Bumi, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Kementerian Kehutanan, SUSTAINARRA, kepolisian, DLH kabupaten Lombok Tengah serta melibatkan siswa dari 2 sekolah yaitu SMAN 2 PUJUT dan SMPN 1 RINJANI sebagai mitra yang turut berkontribusi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan kampanye keberlanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan semangat bersama untuk menghadirkan aksi nyata dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem hutan.

Penanaman berjalan dengan lancar dimulai dari jam 8.30 hingga 11.00 WITA, semua peserta sangat antusias menanam meskipun harus naik turun bukit dengan kelerengan 8-25 sehingga cukup menguras energi namun itu tidak menyurutkan semangat mereka ikut berkontribusi dalam kegiatan sedekah oksigen ini. Total peserta penanaman yaitu 80 orang dari semua elemen diatas. 

Semoga penanaman 1000 pohon ini menjadi langkah yang berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, hijau, dan produktif, serta menjadi investasi ekologis bagi generasi yang akan datang. Melalui program ini, kita berharap tercipta sinergi yang lebih kuat antara lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta dalam menjaga kelestarian bumi.

30 November 2025 Lihat Detail
Thumbnail Berita
Sustainarra, restorasi lingkungan, demplot water catchment, penanaman 1000 pohon, kemiri, kayu putih, HA IPB, ARM HA IPB, BKPH Maria Donggomasa, rehabilitasi lahan Bima, pemberdayaan masyarakat, konservasi ekosistem

Sustainarra Dorong Restorasi Ekosistem Melalui Penanaman 1.000 Pohon Kemiri dan Kayu Putih di Bima–NTB

Bima, 6 Desember 2025 — Sustainarra ikut terlibat dalam kegiatan yang dilakukan oleh DPC HA IPB Bima Dompu, Aksi Relawan Mandiri (ARM) HA IPB, serta BKPH Maria Donggomasa resmi meluncurkan program “Demplot Restorasi Water Catchment Area Berbasis Ekologi & Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat” yang dilaksanakan di So Santangi Ntori, Kabupaten Bima. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam upaya rehabilitasi lahan, penguatan daerah tangkapan air, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

Pada kegiatan ini dilakukan penanaman 1.000 pohon, terdiri dari kemiri dan kayu putih, dua jenis tanaman yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomi tinggi. Kemiri potensial sebagai sumber bahan baku pangan dan minyak industri, sementara kayu putih memberikan nilai tambah melalui produksi minyak atsiri sekaligus berperan kuat dalam konservasi tanah dan air.

Kegiatan ini turut mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, lembaga masyarakat, akademisi, dan relawan.

Muamar Kadafin selaku CEO Sustainarra menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi lintas lembaga dalam kegiatan ini: “Inisiatif penanaman 1.000 pohon hari ini bukan hanya simbol, tetapi komitmen nyata dari Sustainarra untuk menghadirkan solusi perbaikan lingkungan untuk keberlanjutan ekosistem. Kemiri dan kayu putih dipilih karena mampu memberi dampak ekologis dan ekonomi secara bersamaan. Kami percaya bahwa restorasi lanskap hanya akan berhasil jika masyarakat menjadi bagian utama dalam prosesnya. Kerja sama ini menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci utama untuk melindungi dan memulihkan daerah tangkapan air di Bima dan sekitarnya.

Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dari rangkaian program jangka panjang Sustainarra dalam mendorong model restorasi yang terukur, adaptif, dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Program restorasi ini diproyeksikan membawa sejumlah manfaat seperti Peningkatan tutupan vegetasi di area tangkapan air (water catchment), Pengurangan risiko erosi dan banjir, 
Meningkatkan cadangan karbon melalui penanaman spesies pohon bernilai konservasi, Pemberdayaan masyarakat melalui potensi ekonomi minyak kemiri dan minyak kayu putih, Penguatan kolaborasi multipihak dalam perlindungan ekosistem wilayah Bima.

Sustainarra menegaskan komitmennya untuk terus memperluas upaya restorasi dan memberdayakan masyarakat dengan pendekatan sains, teknologi, dan kolaborasi.

Sustainarra adalah organisasi yang bergerak di bidang keberlanjutan lingkungan, restorasi ekosistem, dan pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi. Sustainarra berfokus pada penciptaan solusi nyata dan terukur untuk keberlanjutan ekologis dan ekonomi jangka panjang.

7 Desember 2025 Lihat Detail
Thumbnail Berita
Sustainarra, ESG, Keberlanjutan

Sustainarra Mulai Langkah Baru, Dorong Aksi Keberlanjutan dari Komunitas hingga Korporasi

JAKARTA|| Radarpost.id

Kesadaran terhadap pentingnya tata kelola berkelanjutan terus tumbuh di berbagai sektor. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau environmental, social, and governance (ESG), sejumlah kelompok muda mulai mengambil peran melalui gerakan berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor.

Salah satunya dilakukan Sustainarra (Sustainable Narrative), organisasi yang berfokus pada penguatan narasi dan aksi keberlanjutan. Dalam pertemuan perdana yang berlangsung di Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (7/6/2026), Sustainarra menegaskan arah geraknya sebagai penghubung antara isu keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Pertemuan tersebut sekaligus menetapkan Muhammad Iqbal S.E. sebagai Chief Executive Officer (CEO) Sustainarra. Penunjukan itu dilakukan melalui kesepakatan internal tim setelah mempertimbangkan pengalaman Iqbal dalam pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), administrasi bisnis, serta pengelolaan data dan keuangan.

Iqbal sebelumnya diketahui pernah bertugas di Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Provinsi DKI Jakarta. Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan visi Sustainarra yang ingin mendorong praktik keberlanjutan tidak hanya di tingkat perusahaan besar, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi masyarakat.

Dalam forum tersebut, Sustainarra menyepakati tiga agenda utama yang akan menjadi fokus program organisasi pada tahap awal. Pertama, penanaman pohon produktif yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kedua, edukasi pengolahan sampah berbasis komunitas yang akan melibatkan kelompok ibu-ibu PKK di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Program ini diarahkan untuk membangun kesadaran pengelolaan limbah rumah tangga berbasis ekonomi sirkular.

Ketiga, penyelenggaraan webinar strategis mengenai ESG yang menyasar kalangan pelaku usaha dan pengambil kebijakan. Diskusi tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman dunia usaha terhadap penerapan prinsip keberlanjutan yang kini semakin menjadi perhatian investor dan publik.

Selain membahas program kerja, pertemuan juga diisi diskusi mengenai perkembangan regulasi dan instrumen keberlanjutan di Indonesia. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain implementasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 mengenai keuangan berkelanjutan, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER), serta potensi pengembangan bursa karbon nasional.

Bagi sejumlah pelaku usaha, regulasi tersebut kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Transparansi laporan keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan dinilai semakin memengaruhi reputasi perusahaan di mata investor maupun konsumen.

Di sisi lain, keterlibatan komunitas dinilai tetap menjadi elemen penting dalam transisi menuju pembangunan berkelanjutan. Karena itu, gerakan berbasis masyarakat seperti yang dirancang Sustainarra dipandang dapat menjadi pelengkap upaya pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat budaya keberlanjutan di Indonesia.

Melalui kombinasi pendekatan edukasi, kolaborasi, dan aksi lingkungan, Sustainarra berharap dapat membangun ruang bersama bagi berbagai pihak untuk terlibat dalam agenda keberlanjutan secara lebih konkret.

9 Juni 2026 Lihat Detail

Contact

  • sustainarra@gmail.com
  • +62 856-7053-964
  • Jl. Cempaka Putih Tengah no.29 Jakpus

© 2025 Sustainarra. All rights reserved. Crafted with purpose for a sustainable future.